Pages

Showing posts with label student of life. Show all posts
Showing posts with label student of life. Show all posts

December 2, 2012

rumpi

biggest lesson from last night's talk at ruko RSKIA Astana Anyar, before our last night shift:
 
"wajar sih kalau jadi orang ga mau susah, ga mau repot. tapi jangan gara-gara ga pernah mau susah jadi terus-terusan nyusahin orang lain dong"

semoga saya ga jadi orang yang kebanyakan nyusahin yah, amiin.

November 20, 2012

...

just listen. dont judge.

as much as you disagree. dont judge.

as stupid as you think it was. dont judge.

as loud as those haters whispering in your mind. dont judge.

as crystal clear as your self righteousness told you to. dont judge

as hard as it is not to judge. dont judge.

your ears are enough

- dedicated to myself, for I am trying all I can to be a good listener. and to the little voice inside my head, stop judging dear.

December 4, 2011

sotoylosophy #1

Siapa ya yang pernah bilang ke gue, "belajarlah dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan , tapi lebih baik lagi kalau bisa belajar dari kesalahan orang lain tanpa perlu kita sendiri yang mengalaminya".

Ada lagi yang pernah gue denger, "mungkin satu-satunya cara untuk mengetahui sesuatu itu benar-benar salah atau tidak yaitu dengan melakukan kesalahan tersebut dulu"

Atau mungkin makhluk yang namanya manusia memang terlalu bebal. So they know what they're doing is a mistake yet they keep doing the same mistake. Padahal katanya merugi lah orang-orang seperti itu.

The biggest shit is, kadang-kadang yang namanya kesalahan itu relatif. Jadi bisa saja apa yang dilakukan orang lain itu benar tapi saat kita mau melakukan hal yang sama tapi situasinya beda, tiba-tiba hal yang benar tersebut jadi salah. Atau sesuatu yang seharusnya ga boleh dilakukan, tapi di situasi terdesak baik dengan pertimbangan moral ataupun murni refleks manusia, jadi boleh dilakukan.

It's all about asking your own conscience, and to pray hard that you still have it.

I pray that in any circumstances I've been or am or will be under, I still have it.


January 21, 2011

Learn to Live With Wounds (written by Paulo Coelho)

This was reblogged from Mr. Coelho's blog. I do not own the original story :) 
                                                                                                  

During the Ice Age many animals died because of the cold. Seeing this situation, the porcupines decided to group together, so they wrapped up well and protected one another.

But they hurt one another with their thorns, and so then they decided to stay apart from one another.
They started to freeze to death again. So they had to make a choice: either they vanished from the face of the earth or they accepted their neighbor's thorns.

They wisely decided to stay together again. They learned to live with the small wounds that a very close relationship could cause, because the most important thing was the warmth given by the other.

And in the end they survived.

December 12, 2010

saat marah, (selain istigfar) saya mengingat ini

"Seburuk-buruknya orang pasti punya sisi baik juga. Kalo ngga, ngga bakal ada yang mau berteman sama dia"

Kalimat ini diucapkan sama seorang sahabat gue pas SMP. Gue inget persis cara pengucapannya, kapan, dan mengapa dia mengucapkannya. Sampai sekarang gue udah kuliah pun, kalimat sederhana tapi sarat makna ini tetap gue jadikan salah satu pegangan hidup. And it helps, a lot! Thanks, my dear Audrey :)

"Jangan pernah men-judge seseorang cuma berdasarkan satu peristiwa"
Yang ini diucapkan sama temen kuliah gue, Au. Setuju banget. Kadang saking keselnya sama seseorang, kita lupa bahwa si orang ini mungkin sedang dipengaruhi faktor lain (contoh: nilainya jelek, berantem sama keluarga, pacar, atau hal lain yang bikin gampang naik darah). Kadang saking marahnya, kita jadi menutup hati terhadap orang tersebut, dan berpikir apa yang dia lakukan selalu jelek di mata kita. Dengan bersikap cupet, besar kemungkinan kita bakal kehilangan banyak pelajaran berharga yang bisa digali dari orang tersebut. Kesel boleh, tapi jangan lama-lama hehe. Saat kita marah selama 1 menit, maka kita telah melewatkan 60 detik kegembiraan yang tidak bisa didapat kembali (ini kalimat siapa sih pinjem ya haha).